"...Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau beramal disamping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalu engkau MISKIN. Engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahKu saja? Tidak!..."
Robohnya Surau Kami
Posted by
Wildan Abdurrahman
in
renungan
Si Naga. (1)
Posted by
Wildan Abdurrahman
in
tentang kota
Tak lagi terkenal, tak lagi dikenal.
Rohani. penjaja mainan tradisional ini masih saja tak patah semangat mengelilingi sudut kota Yogya. Tujuannya satu, sesuap nasi. Disisi lain kita lihat, arus modernisasi dan westernisasi menjadi pelaku utama pembunuhan minat masyarakat akal hal-hal yang berbau tradisional.
Tradisional, yah, sebagian lain beranggapan hal itu kuno, ketinggalan zaman, susah, dan kini biasa mereka menyebutnya, ribet.
Rohani, menjadi saksi, betapa mainan yang dulu pernah menjadi primadona, kini semakin terlupakan dan ditinggalkan pelanggan setianya.
Posted by
Wildan Abdurrahman
in
tentang kota,
video
Cengeng.
Ya, cengeng, saat umur ini sudah menua, tp belum bisa membahagiakan mereka
Benar saya cengeng, jika mengingat lagi kesalahan saya dahulu pada mereka
Anda benar, saya cengeng, saat rindu dengan senyum hangat mereka.
Dan anda tidak salah, saya cengeng, saat saya takut termasuk golongan yg durhaka terhadap mereka dan terhadap-Nya.
Posted by
Wildan Abdurrahman
in
renungan

