Untuk "kami sendiri".

11 Desember 2011 0 comments

Maka untuk apa kamu bersama dengannya? Dengan sedikit waktu saja, lalu apa tujuanmu? Senang sekali rasanya kamu mempermainkannya? Dimana hatimu, kawan? Tidakkah kamu berfikir? Dia sama dengan orang yang melahirkanmu, ibumu?

Anak kecil itu, Kita.

1 Desember 2011 0 comments



Cukup sulit bagi org tua, menganggap anaknya sudah tumbuh dewasa, tapi jangan pernah salahkan ego mereka, karna keinginan mereka adalah selalu mengharapkan yg terbaik untuk buah hatinya, dan karna kita tidak tau apa yg ada di pikiran mereka. Mungkin bagi mereka ini sama saja dengan permainan waktu, bagi mereka mungkin rasanya baru kemarin kita masih balita, belum bisa apa2, yg masih harus disuapi saat makan, dan ditemani saat akan menjelajahi mimpi saat malam. Kasih sayang mereka terlalu besar untuk itu, karna kita adalah perhiasan mereka, yg sudah mereka jaga cukup lama, maka semuanya menjadi masuk akal karna tak mudah bagi mereka membiarkan kita tumbuh berkembang sendiri tanpa berada disisinya dan dengan perhatian langsung darinya. Dan kelak kita akan mudah sekali memahaminya jika kita berada di posisi mereka. Salam hangat dan sejahtera untuk kedua org tua kita.

Titik.

16 November 2011 0 comments

hidup itu,keterkaitan antara titik awal dan akhir,

Catatan Anak Bujang Kecilmu

7 November 2011 0 comments

09.00 WIB incoming call: Ayah
10.00 WIB incoming call: Ibu
...............................................

Mendengar suaranya yg semakin begetar, ingatan semakin memudar, keriput semakin menyebar. Dimata org, dia, mereka, tak lagi gagah seperti dulu, tak pula lagi cantik seperti dulu. Entah berapa puluh ribu langkah yg menemani harinya untuk sekedar membelikanku nasi, segelas susu hangat agar bujangnya ini tumbuh sehat dan gagah sepeti mereka.

Tak peduli peluh yang mengalir deras dari wajahnya, mereka tetap peduli dengan anak2nya, biarpun sekali, dua, kesalnya meluap karna sikap balita anaknya yg masih sering muncul, tp aku yakin itulah tanda perhatian dan pelajaran yg berharga dari kalian.

Ibu, ayah, jelaskan padaku bagaimana caranya aku membalas kebaikan kalian? Bagaimana agar aku slalu bisa menerbitkan senyum dan tawa bahagia di wajah kalian? Karna sujudku saja mungkin belum cukup. Ya Rahhim, muliakanlah selalu kedua org tua ini, kasihilah mereka selayaknya mereka mengasihiku saat aku kecil dahulu.

Kini, dibalik telfon yg ku genggam, memori indah itu datang lagi, seiring suara yg ku dengar dr seberang sana. Ingin rasanya aku pulang, kuciumi pipi dan tangannya, melepas rindu dan sekedar bersenda gurau bersama. Namun suaramu yg begetar itu yg turut pula menggetarkan hati. Ibu, ayah, kalian tak lagi muda, namun kalian akan terus tetap muda di mata anak bujangmu ini, tetaplah pahlawan bagi anakmu di rantau ini. Panutan yg selalu mengajari banyak hal.

Ibu, ayah, maafkan aku belum bisa membuat kalian bahagia, doakan anakmu ini agar sukses di ranah orang, dan bisa jadi sekuat dan setegar kalian dalam menjalani hidupku kelak. Ibu,ayah, entah bagaimana menyampaikannya, jika ada kata yg lebih bermakna dan berharga dari sayang dan cinta, kata2 itu lah yg akan ku persembahkan pada kalian, dan cukuplah Allah yg paling mengetahui bagaimana cinta dan sayangku untuk kalian.

"Tidak Punya Tuhan"

24 Oktober 2011 0 comments

diberi akal saja sudah membangkang
sedikit saja logika yang dia punya sudah berani mempertanyakan Penciptanya
sedikit saja diberikan kelebihan sudah menantang Pemilik-dirinya
secuil saja kenikmatan, kenyamanan sudah paling arogan
ah manusia, bisa apa sih kalian tanpa adanya TUHAN?! Hidup kalian saja tidak bisa kalian buat abadi
ah manusia, mantap sekali sepertinya hati kalian menganggap DIA tidak ada? berfikir dengan cara logika kalian (yang terbatas) itu, bahwa semuanya hanya kebetulan belaka 
ah manusia, tidakkah kalian melihat tumbuhan? hewan? tanah?
merasakan udara, air? dan memandangi langit?
semuanya saja tidak pernah berhenti memanggil-manggil nama-Nya.
Hai manusia tak berTUHAN! jika air, tanah, udara, langit, bahkan hewan sekalipun sesungguhnya selalu mengingat Penciptanya, di bagian manakah derajatmu sebagai makhluk yang hidup?